(Foto: Reuters)
TEHERAN – Kelompok garis keras Iran memperingatkan Presiden Mahmoud Ahmadinejad agar mematuhi pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei di tengah krisis politik yang terjadi saat ini.
Tekanan politik kembali mengarah ke Ahmadinejad. Setelah terus digoyang tokoh oposisi, kini giliran kelompok garis keras mengkritik keras Ahmadinejad yang dinilainya sudah mulai kehilangan loyalitas kepada Khamenei.
“Semua orang seharusnya tidak boleh ragu-ragu dalam melaksanakan perintah pemimpin tertinggi Iran,” tutur salah seorang ulama garis keras yang terkenal sangat vokal, Ahmad Khatami.
Kritikan keras Khatami ini datang setelah Ahmadinejad mengeluarkan beberapa putusan kontroversial yang tidak “direstui” Khamenei. Penunjukan Esfandiar Rahim Mashaie sebagai wakil presiden pertama merupakan salah satu keputusan yang ditentang Khamenei. Belum lagi pemecatan Menteri Intelijen Gholam Hossein Mohseni Ejeie yang mengundang reaksi keras. Ejeie dipecat setelah bersitegang dengan Mashaie.
Selain dari Khatami, kritik juga datang dari media kelompok garis keras. Mereka meminta Ahmadinejad kembali mengevaluasi tindakan dan sikapnya.
“Ahmadinejad harus meminta maaf kepada rakyat Iran,” tulis halaman depan Yalesarat, koran yang dimiliki garis keras.
Peringatan tidak kalah keras datang dari kalangan konservatif yang menamakan diri Masyarakat Islam Ahli Teknik. Mereka menulis surat terbuka kepada Ahmadinejad yang tak lain profesor di bidang teknik transportasi.
Kendati Ahmadinejad meraih kemenangan telak (63%) dalam pilpres kemarin, dukungan terhadapnya bisa menurun drastis bila dia terus-menerus “membangkang” Khamenei.
Meskipun tidak memegang kekuasaan dan kendali pemerintahan, pengaruh Khamenei sangat besar di Iran. Semua kebijakan penting di negeri itu seperti pengayaan energi nuklir ataupun kebijakan luar negeri dibuat atas persetujuan Khamenei. Dia juga tokoh yang sangat disegani dan dihormati warga Iran.
“Dukungan rakyat Iran terhadap Anda (Ahmadinejad) sangat tergantung pada kepatuhan Anda kepada pemimpin tertinggi Iran. Semua tindakan Anda akan memiliki konsekuensi,” tulis Masyarakat Islam Ahli Teknik yang dipublikasikan Selasa (28/7).
Mereka juga mengkritik keras penunjukan Mashaie. Tahun lalu Mashaie pernah menyulut kontroversi dengan mengatakan Iran adalah teman Israel. Dia kemudian mundur dari jabatannya setelah Khamenei meminta Ahmadinejad untuk memecat Mashaie. Sementara itu, Pemerintah Iran membebaskan 140 tahanan politik yang ditangkap saat berdemo menentang hasil pemilu presiden bulan lalu.
Pembebasan ini datang setelah Khameini memerintahkan penutupan penjara Evin yang menjadi salah satu penjara bagi demonstran penentang hasil pilpres. Khamenei menilai penjara tersebut sudah lalai dalam melindungi hak-hak tahanan. Penutupan penjara serta pembebasan tahanan ini memberi bukti besarnya tekanan yang dihadapi Pemerintah Iran terkait tahanan penentang hasil pemilihan presiden.
Salah satu anggota Komite Politik Luar Negeri dan Keamanan Nasional Iran, Kazem Jalali, menyatakan tahanan yang dibebaskan kemarin hanyalah mereka yang melakukan pelanggaran ringan. Tahanan yang dianggap melakukan pelanggaran berat, seperti pemimpin demo, belum akan dibebaskan.
“Tidak ada tokoh politik ternama yang masuk dalam daftar orang yang dibebaskan,” tuturnya.
Sebelumnya beredar kabar bahwa salah satu tokoh reformis, Saeed Hajjarian, akan dibebaskan kemarin atau Rabu (29/7). Namun, pengacara Hajjarian mengaku belum tahu mengenai kabar kliennya itu.
Hajjarian dikenal luas sebagai salah satu sekutu kuat kandidat presiden Mir Hossein Mousavi yang kalah dari Ahmadinejad. Hingga kini belum ada konfirmasi dari Pemerintah Iran terkait nasib tahanan yang berada di pusat tahanan Kahrizak.(Koran SI/Koran SI/jri)
Komentar Terakhir